Rindu Tere Liye
"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukan milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta,
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yanh seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
***
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Cerita bermula pada penghujung tahun di tanggal 1 Desember 1038. Sebuah perjalanan besar dan panjang yang ditunggu sejak bertahun-tahun lamanya. Perjalanan panjang mereka dibawa oleh kapal uap yang sangat besar kala itu bertuliskan BLITAR HOLLAND.
Novel karya Tere Liye ini menceritakan tentang kehidupan keseharian di atas kapal yang membawa para calon jamaah haji Indonesia menuju Mekah tanah suci umat Islam.
Blitar Holland seperti sebuah Nusantara dalam versi mungil karena di dalamnya terdapat calon jamaah haji yang diangkut mulai dari Makassar - Surabaya - Semarang - Batavia - Lampung - Bengkulu - Padang - Aceh. Kemudian transit di Kolombo (Sri Lanka) - Jeddah - dan Rotterdam.
Membayangkan bagaimana perjalanan haji kala itu benar-benar sebuah pengorbanan yang luar biasa. Bagaimana tidak setelah menanti cukup lama mendapat panggilan ke baitullah, butuh waktu yang lama juga dalam perjalanan dan ibadahnya. Kurang lebih sembilan bulan lamanya.
Terlebih harus menyiapkan fisik, mental maupu finansial. Pada akhirnya Wlwalaupun begitu semua terbayarkan dengan rasa haru bahagia saat bisa menunaikan rukun islam yang kelima itu.
Jujur aku menyesal karena bisa membacanya setelah empat tahun di rak buku karena bukunya sangat tebal. Dengan tebal mencapai 544 halaman rasanya sangat enggan untuk membaca saat kita memang benar-benar tidak sibuk. Nyatanya cukup waktu seminggu untuk membacanya. Dan kenapa aku tidak membacanya dari dulu saja.
Pesan-pesan di dalamnya membuatku merasakan banyak makna yang bisa aku ambil untuk aku aplikasikan di dalamnya. Walaupun konfliknya tidak berat tapi cerita di dalamnya mengalir begitu saja sampai tidak sadar aku sudah berada di halaman terkahir.
Terharu sekali membaca lima kisah yang dijadikan satu dalam satu cerita. Walapun mempunyai tujuan yang sama tapi saat berangkat mereka menyimpan banyak rahasia di dalamnya. Seperti salah satu contoh cerita Daeng Andipati yang membawa kebencian terlalu dalam kepada Ayahnya. Dalam benaknya selalu dihantui pertanyaan apakah pantas membawa kebencian itu sampai ke tanah suci?.
Dan disinilah peran Gurutta, sebagai orang yang sangat dihormati beliau selalu memberikan prespektif yang berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Jadi kita sendiri bisa merenungkan betapa banyak hal yang kita abaikan di sekitar kita tanpa kita sadari.
Dan masih ada beberapa kisah Bundo Upe, Ambo Uleng, Mbah Kakung dan Mbah Putri yang tak kalah menginspirasi juga.
Tetapi siapa sangka bahwa Gurruta yang pandai memberikan jawaban yang bijaksana. Nyatanya beliau juga punya pertanyaan besar tapi tak kunjung bisa menjawab pertanyaannya sendiri.
Aku sarankan saat membaca buku ini saat benar-benar longgar ya.
Komentar
Posting Komentar